JAKARTA, KOMPAS.com- Permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia bukanlah permasalahan ekonomi makro, melainkan masalah ekonomi mikro. Yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah para insinyur bukan ahli ekonomi. Hal tersebut disampaikan Fauzi Ichsan, Vice President&Economist Standard Chartered. "Tantangan yang ada adalah dalam bidang ekonomi mikro,"ucapnya dia di Jakarta, Rabu (14/10) malam.
Permasalahan tersebut, lanjutnya antara lain masalah pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan yang menjadi gerbang masuknya devisa asing. Selain itu, kata Fauzi, belum meratanya pembangunan pembangkit tenaga listrik di Indonesia juga menjadi salah satu masalah ekonomi Indonesia yang perlu diperhatikan. Pasalnya listrik merupakan motor penggerak roda perekonomian."Semua itu bisa diatasi oleh para ahli di bidang proyek dan pembangunan," kata dia.
Masalah mikro lainnya, lanjut Fauzi adalah masalah pembebasan lahan yang selama ini sering menjadi permasalahan besar antara pengembang dan warga. Belum transparannya penggunaan retribusi pajak juga menjadi salah satu masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia. Menurut Fauzi, permasalahan pembebasan lahan dan retribusi pajak hanya dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah, bukan para menteri yang duduk di pemerintahan.
Fauzi mengatakan, kesemua masalah tersebut harus segera diselesaikan. Para investor terutama investor asing baru akan menanamkan modalnya jika mendapat kejelasan dari sisi ekonomi. "Indonesia ini sangat potensial untuk investasi, tapi investor mana yang bersedia menanamkan modalnya jika sarana dan prasarana belum jelas," tegas Fauzi.
Jumat, 07 Januari 2011
Balap Harga Sahamnya, Waran FREN Disuspensi
Widi Agustian - Okezone
Ilustrasi
JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara perdagangan (suspensi) waran seri II PT Mobile 8 Telecom Tbk (FREN-W) pada sesi II perdagangan hari ini, Jumat (7/1/2011).
"Penghentian sementara perdagangan FREN-W di pasar reguler dan pasar tunai pada sesi II perdagangan tanggal 7 Januari 2011 selama satu sesi perdagangan," jelas Kadiv Perdagangan Saham Andre PJ Toelle dalam laporannya di Jakarta, Jumat (7/1/2011).
Suspensi ini dilakukan BEI akibat waran ini mengalami peningkatan harga, sehingga harga waran emiten dengan ticker FREN ini lebih tinggi dari pada harga sahamnya.
Ada pun FREN-W mengalami peningkatan harga sehingga harganya menjadi Rp51, sementara harga saham FREN sendiri cuma Rp50 pada hari ini.(wdi)
Ilustrasi
JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara perdagangan (suspensi) waran seri II PT Mobile 8 Telecom Tbk (FREN-W) pada sesi II perdagangan hari ini, Jumat (7/1/2011).
"Penghentian sementara perdagangan FREN-W di pasar reguler dan pasar tunai pada sesi II perdagangan tanggal 7 Januari 2011 selama satu sesi perdagangan," jelas Kadiv Perdagangan Saham Andre PJ Toelle dalam laporannya di Jakarta, Jumat (7/1/2011).
Suspensi ini dilakukan BEI akibat waran ini mengalami peningkatan harga, sehingga harga waran emiten dengan ticker FREN ini lebih tinggi dari pada harga sahamnya.
Ada pun FREN-W mengalami peningkatan harga sehingga harganya menjadi Rp51, sementara harga saham FREN sendiri cuma Rp50 pada hari ini.(wdi)
WISDOM
*
Adam Smith
"Apa yang bisa ditambahkan kepada orang yang berbahagia, sehat, bebas utang, serta memiliki hati nurani yang bersih?”Adam Smith (1723-1790), filsuf dan ekonom asal Skotlandia"
*
Edward G Bulwer-Lytton
"Lebih baik punya lima musuh yang energik dan kompeten daripada seorang kawan yang bodoh." Edward G Bulwer-Lytton (1803-1873), politikus dan kritikus Inggris"
*
Bunda Teresa
"Tidak semua hal yang besar bisa kita kerjakan, tapi kita pasti bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar." Bunda Teresa dari Kalkuta (1910–1997)"
*
Mahatma Gandhi
"Kekuatan tidak bersumber dari kemampuan fisik. Kekuatan datang dari kehendak yang tak tertaklukkan." Mahatma Gandhi (1869–1948), filsuf India"
*
Epictetus
"Kita memiliki dua telinga dan satu mulut. Karena itu, kita mampu dua kali lebih banyak dalam mendengarkan daripada berbicara." Epictetus, filsuf Yunani"
*
François de la Rochefoucauld
"Alam menciptakan kemampuan. Keberuntungan melengkapinya dengan kesempatan." François de la Rochefoucauld (1613-1680), penulis klasik Prancis"
*
Zig Ziglar
"Menang bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah usaha untuk menang." Zig Ziglar, motivator Amerika Serikat"
Adam Smith
"Apa yang bisa ditambahkan kepada orang yang berbahagia, sehat, bebas utang, serta memiliki hati nurani yang bersih?”Adam Smith (1723-1790), filsuf dan ekonom asal Skotlandia"
*
Edward G Bulwer-Lytton
"Lebih baik punya lima musuh yang energik dan kompeten daripada seorang kawan yang bodoh." Edward G Bulwer-Lytton (1803-1873), politikus dan kritikus Inggris"
*
Bunda Teresa
"Tidak semua hal yang besar bisa kita kerjakan, tapi kita pasti bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar." Bunda Teresa dari Kalkuta (1910–1997)"
*
Mahatma Gandhi
"Kekuatan tidak bersumber dari kemampuan fisik. Kekuatan datang dari kehendak yang tak tertaklukkan." Mahatma Gandhi (1869–1948), filsuf India"
*
Epictetus
"Kita memiliki dua telinga dan satu mulut. Karena itu, kita mampu dua kali lebih banyak dalam mendengarkan daripada berbicara." Epictetus, filsuf Yunani"
*
François de la Rochefoucauld
"Alam menciptakan kemampuan. Keberuntungan melengkapinya dengan kesempatan." François de la Rochefoucauld (1613-1680), penulis klasik Prancis"
*
Zig Ziglar
"Menang bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah usaha untuk menang." Zig Ziglar, motivator Amerika Serikat"
Mau Usia Lebih Panjang? Jadi Orang Kaya! Koran SI
Koran SI
Senin, 4 Oktober 2010 - 14:38 wib
TERNYATA kesenjangan ekonomi tidak hanya berdampak pada tingkat kesejahteraan, tapi juga pada perbedaan panjang pendeknya usia sebagai akibat perbedaan gaya hidup.
Orang yang lebih kaya justru memiliki usia harapan hidup lebih panjang rata-rata tiga tahun dibanding orang miskin. Demikian hasil temuan studi yang dilakukan Catholic Health Australia (CHA), organisasi nasional bidang kesehatan Australia dalam laporan “The report Health Lies in Wealth” yang dipublikasikan (26/9/2010).
Meskipun menganalisis hasil survei dengan responden warga Australia usia antara 25-64 tahun, laporan ini cukup menggambarkan alasan mengapa warga miskin memiliki peluang hidup lebih pendek. Status sosio-ekonomi merupakan ukuran prediksi yang lebih akurat untuk melihat angka harapan hidup seseorang. Terutama dari peluang terkena penyakit kardiovaskular dibanding level kolesterol aktivitas merokok.
Laporan yang disusun The University of Canberra’s National Centre for Social and Economic Modelling (NATSEM) tersebut mengungkapkan, sebanyak 65% responden dengan pendapatan rendah menderita penyakit jangka panjang dibanding hanya 15% responden dari pendapatan tinggi. Para responden yang berpendapatan rendah tersebut lebih cenderung mengalami obesitas, merokok, dan bagi pemuda lebih suka meminum minuman beralkohol.
“Laporan ini menunjukkan bahwa responden yang tidak menamatkan sekolah SMA-nya adalah faktor sangat berisiko ketimbang faktor biologis lain untuk peluang terkena penyakit kardiovaskular,” ujar Chief Executive Officer CHA Martin Laverty sebagaimana dikutip The Australian (26/9/2010). Lebih lanjut, studi ini memaparkan bahwa angka usia harapan hidup bagi masyarakat miskin 3,1 tahun lebih rendah dibanding kelompok responden dari masyarakat kaya.
Hampir 65% responden yang hidup dengan sewa rumah memiliki masalah kesehatan jangka panjang dibanding hanya 15% responden yang memiliki rumah sendiri. Kemudian lebih dari 60% pria pengangguran dilaporkan memiliki masalah kesehatan jangka panjang atau kecacatan. Lebih dari 40% pada wanita, tingkat angka obesitas tiga kali lebih besar pada responden yang tinggal di perumahan publik atau sewa ketimbang mereka yang tinggal di rumah sendiri.
Selain itu, responden yang tidak menamatkan sekolah menengah juga lebih berpeluang menjadi pecandu alkohol dua kali lebih besar ketimbang responden yang beruntung mengenyam bangku pendidikan tinggi. “Studi ini menunjukkan target kebijakan yang hanya mempertimbangkan perubahan perilaku tidaklah akan banyak membantu,” ungkap Laverty.
Temuan penelitian cukup menarik mengingat Australia merupakan negara dengan standar kesehatan internasional ternyata masih mengalami kesenjangan diakibatkan perbedaan status ekonomi. Ketidaksetaraan kesehatan bagi warga Australia pada usia bekerja ini tampak sebagai sesuatu yang umum sehingga muncul kesimpulan lebih rendah pendapatan seseorang, lebih buruk kesehatannya.
Serta kesenjangan ini tampak sangat lebar. Angka tingkat pendapatan, level pendidikan, tingkat bekerja, status tempat tinggal, hingga koneksi sosial sangat terkait tingkat kesehatan seseorang. Penelitian ini menemukan fakta, satu dari sembilan orang berusia 25–44 tahun dan satu dari lima orang usia 45–64 tahun memiliki level kesehatan yang buruk. Sekitar 50% pria dan wanita berusia 45–64 tahun yang memiliki pendapatan tergolong 20% termiskin melaporkan kesehatan mereka buruk.
Kemudian 20–30% yang berada di garis kemiskinan dan berusia 25–44 tahun memiliki kesehatan yang buruk dibanding 10% responden yang sedikit berada di atas garis kemiskinan. Hampir 15% warga Australia dari usia 25-44 tahun dan 30% dari usia 45-64 tahun melaporkan kesehatan mereka yang memburuk dan mengganggu aktivitas harian mereka yang merupakan kalangan kurang beruntung secara ekonomi.
Terkait aktivitas merokok, kurang dari 20% orang dewasa di Australia kini dilaporkan memiliki kebiasaan merokok terutama mereka dari ekonomi lemah. Hampir sepertiga dari pemuda miskin adalah perokok. Dalam tingkat yang relatif, risiko tertinggi menjadi perokok adalah perempuan miskin berusia 25–44 tahun. Faktor sosio-ekonomi paling diskriminatif dari aktivitas merokok ini adalah disebabkan pendidikan, status tempat tinggal, dan tingkat pendapatan.
Hanya 15% responden yang dilaporkan merokok dari kalangan yang berpendidikan tinggi. Dengan demikian, wajar jika semakin miskin seseorang, semakin rendah tingkat pendidikannya dan pendapatannya, semakin buruk gaya hidupnya. Wajar juga bagi orang kaya yang beruntung bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi dan segala fasilitas serbamemadai memiliki peluang usia harapan hidup lebih tinggi.
Gaya hidup sehat memang tidak selalu mahal, tapi tidak murah bagi si miskin yang memiliki pendapatan pas-pasan. Hasil survei serupa sebenarnya juga diungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan, salah satu belanja terbesar masyarakat miskin di Indonesia justru untuk membeli rokok.
Angka kemiskinan per Maret 2010 yang dipublikasikan Juli 2010 ini mengungkapkan bahwa dominasi pengeluaran utama si miskin di antaranya 73,5% adalah untuk makan. Angka ini hanya berubah sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 73,6%. Makan menjadi kebutuhan dasar orang miskin.
Setelah itu baru mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk pendidikan dan transportasi dan sisanya untuk kesehatan. BPS mengungkapkan, komoditi makanan yang dikonsumsi orang miskin adalah beras di urutan pertama untuk lingkungan perkotaan dengan porsi 25,2%, sedang pedesaan mencapai 34,11%. Meski miskin, kebanyakan mereka juga tercatat memenuhi kebutuhan untuk belanja rokok sebesar 7,93% untuk perkotaan dan di pedesaan sebesar 5,9% dan ini menempati peringkat kedua untuk pengeluaran si miskin.
Senin, 4 Oktober 2010 - 14:38 wib
TERNYATA kesenjangan ekonomi tidak hanya berdampak pada tingkat kesejahteraan, tapi juga pada perbedaan panjang pendeknya usia sebagai akibat perbedaan gaya hidup.
Orang yang lebih kaya justru memiliki usia harapan hidup lebih panjang rata-rata tiga tahun dibanding orang miskin. Demikian hasil temuan studi yang dilakukan Catholic Health Australia (CHA), organisasi nasional bidang kesehatan Australia dalam laporan “The report Health Lies in Wealth” yang dipublikasikan (26/9/2010).
Meskipun menganalisis hasil survei dengan responden warga Australia usia antara 25-64 tahun, laporan ini cukup menggambarkan alasan mengapa warga miskin memiliki peluang hidup lebih pendek. Status sosio-ekonomi merupakan ukuran prediksi yang lebih akurat untuk melihat angka harapan hidup seseorang. Terutama dari peluang terkena penyakit kardiovaskular dibanding level kolesterol aktivitas merokok.
Laporan yang disusun The University of Canberra’s National Centre for Social and Economic Modelling (NATSEM) tersebut mengungkapkan, sebanyak 65% responden dengan pendapatan rendah menderita penyakit jangka panjang dibanding hanya 15% responden dari pendapatan tinggi. Para responden yang berpendapatan rendah tersebut lebih cenderung mengalami obesitas, merokok, dan bagi pemuda lebih suka meminum minuman beralkohol.
“Laporan ini menunjukkan bahwa responden yang tidak menamatkan sekolah SMA-nya adalah faktor sangat berisiko ketimbang faktor biologis lain untuk peluang terkena penyakit kardiovaskular,” ujar Chief Executive Officer CHA Martin Laverty sebagaimana dikutip The Australian (26/9/2010). Lebih lanjut, studi ini memaparkan bahwa angka usia harapan hidup bagi masyarakat miskin 3,1 tahun lebih rendah dibanding kelompok responden dari masyarakat kaya.
Hampir 65% responden yang hidup dengan sewa rumah memiliki masalah kesehatan jangka panjang dibanding hanya 15% responden yang memiliki rumah sendiri. Kemudian lebih dari 60% pria pengangguran dilaporkan memiliki masalah kesehatan jangka panjang atau kecacatan. Lebih dari 40% pada wanita, tingkat angka obesitas tiga kali lebih besar pada responden yang tinggal di perumahan publik atau sewa ketimbang mereka yang tinggal di rumah sendiri.
Selain itu, responden yang tidak menamatkan sekolah menengah juga lebih berpeluang menjadi pecandu alkohol dua kali lebih besar ketimbang responden yang beruntung mengenyam bangku pendidikan tinggi. “Studi ini menunjukkan target kebijakan yang hanya mempertimbangkan perubahan perilaku tidaklah akan banyak membantu,” ungkap Laverty.
Temuan penelitian cukup menarik mengingat Australia merupakan negara dengan standar kesehatan internasional ternyata masih mengalami kesenjangan diakibatkan perbedaan status ekonomi. Ketidaksetaraan kesehatan bagi warga Australia pada usia bekerja ini tampak sebagai sesuatu yang umum sehingga muncul kesimpulan lebih rendah pendapatan seseorang, lebih buruk kesehatannya.
Serta kesenjangan ini tampak sangat lebar. Angka tingkat pendapatan, level pendidikan, tingkat bekerja, status tempat tinggal, hingga koneksi sosial sangat terkait tingkat kesehatan seseorang. Penelitian ini menemukan fakta, satu dari sembilan orang berusia 25–44 tahun dan satu dari lima orang usia 45–64 tahun memiliki level kesehatan yang buruk. Sekitar 50% pria dan wanita berusia 45–64 tahun yang memiliki pendapatan tergolong 20% termiskin melaporkan kesehatan mereka buruk.
Kemudian 20–30% yang berada di garis kemiskinan dan berusia 25–44 tahun memiliki kesehatan yang buruk dibanding 10% responden yang sedikit berada di atas garis kemiskinan. Hampir 15% warga Australia dari usia 25-44 tahun dan 30% dari usia 45-64 tahun melaporkan kesehatan mereka yang memburuk dan mengganggu aktivitas harian mereka yang merupakan kalangan kurang beruntung secara ekonomi.
Terkait aktivitas merokok, kurang dari 20% orang dewasa di Australia kini dilaporkan memiliki kebiasaan merokok terutama mereka dari ekonomi lemah. Hampir sepertiga dari pemuda miskin adalah perokok. Dalam tingkat yang relatif, risiko tertinggi menjadi perokok adalah perempuan miskin berusia 25–44 tahun. Faktor sosio-ekonomi paling diskriminatif dari aktivitas merokok ini adalah disebabkan pendidikan, status tempat tinggal, dan tingkat pendapatan.
Hanya 15% responden yang dilaporkan merokok dari kalangan yang berpendidikan tinggi. Dengan demikian, wajar jika semakin miskin seseorang, semakin rendah tingkat pendidikannya dan pendapatannya, semakin buruk gaya hidupnya. Wajar juga bagi orang kaya yang beruntung bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi dan segala fasilitas serbamemadai memiliki peluang usia harapan hidup lebih tinggi.
Gaya hidup sehat memang tidak selalu mahal, tapi tidak murah bagi si miskin yang memiliki pendapatan pas-pasan. Hasil survei serupa sebenarnya juga diungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan, salah satu belanja terbesar masyarakat miskin di Indonesia justru untuk membeli rokok.
Angka kemiskinan per Maret 2010 yang dipublikasikan Juli 2010 ini mengungkapkan bahwa dominasi pengeluaran utama si miskin di antaranya 73,5% adalah untuk makan. Angka ini hanya berubah sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 73,6%. Makan menjadi kebutuhan dasar orang miskin.
Setelah itu baru mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk pendidikan dan transportasi dan sisanya untuk kesehatan. BPS mengungkapkan, komoditi makanan yang dikonsumsi orang miskin adalah beras di urutan pertama untuk lingkungan perkotaan dengan porsi 25,2%, sedang pedesaan mencapai 34,11%. Meski miskin, kebanyakan mereka juga tercatat memenuhi kebutuhan untuk belanja rokok sebesar 7,93% untuk perkotaan dan di pedesaan sebesar 5,9% dan ini menempati peringkat kedua untuk pengeluaran si miskin.
Tunggangan Orang Kaya Dunia
Koran SI
Minggu, 24 Oktober 2010 - 11:51 wib
Mobil Rolls-Royce (Foto: Daylife)
UANG boleh berlimpah, tapi gaya hidup tidak selalu mewah. Demikianlah sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa orang superkaya dunia. Warren Buffet misalnya, raja investasi asal Amerika Serikat (AS) ini justru hanya menggunakan Lincoln Town tahun 2001.
Mobil yang sangat sederhana untuk sekelas orang terkaya ketiga di dunia. Tidak berbeda dengan Ingvar Kamprad, pengusaha furnitur asal Swedia ini malah sering memilih menggunakan bus umum untuk mengontrol bisnisnya. Dia hanya memiliki mobil tua Volvo 240 GL. Namun tidak sedikit orang kaya-raya yang menikmati hidupnya dengan kemewahan, termasuk dalam urusan mobil. Dalam catatan MSN Autos (7/10/2010) dipaparkan tentang beberapa orang superkaya dan koleksi mobilnya.
Di antaranya adalah Warren Buffett. Raja investasi dari AS ini memiliki kekayaan USD49,9 miliar. Buffett merupakan orang terkaya ketiga di dunia, tapi untuk urusan gaya hidup dia sangat hemat. Buffet memiliki Lincoln Town Car tahun 2001. Bahkan, pada 2007 Buffet menjualnya melalui eBay sebesar USD73.200. Penjualan ini menguntungkan USD11.000 yang kemudian hasilnya disumbangkan untuk amal.
Kemudian Mukesh Ambani, seorang pengusaha petrokimia dan minyak India dengan kekayaan USD30,6 miliar. Orang terkaya India ini tidak asing dengan kemewahan. Rumahnya 27 lantai menjulang di jantung Kota Mumbai, India. Pemilik Reliance Group ini memiliki ruang parkir untuk 168 mobil. Ambani saat ini memiliki Mercedes Maybach 62 seharga Rp11 miliar. Dia juga memiliki Mercedes S Class dan Mercedes SL500.
Sementara Lawrence Ellison, pemilik Oracle, AS, yang tercatat memiliki kekayaan USD 29,8 miliar, memiliki mobil Bentley Continental Flying Spur tahun 2006. Sedan empat pintu ini bisa dipacu 320 km per jam, salah satu mobil tercepat dunia. Pendiri software Oracle, Larry Ellison, mungkin yang paling eksentrik dan boros. Ia memiliki pesawat tempur MiG bikinan Rusia dan perahu layar mewah. Pengusaha tambang dan minyak Brasil Eike Batista tercatat memiliki kekayaan USD29 miliar.
Sebagaimana Larry Ellison, baik dari segi kekayaan maupun gaya hidup, pengusaha minyak asal Brasil ini memiliki jet pribadi Legacy Embraer 600 seharga USD26 juta. Dia juga memiliki kapal pesiar mewah Pershing 115 seharga USD19 juta dan perahu balap USD1,7 juta. Adapun untuk mobil, dia memiliki Mercedes-Benz SLR McLaren seharga USD500.000 yang diparkir di ruang tamunya di Rio de Janeiro.
Sementara pengusaha furnitur IKEA, Swedia, Ingvar Kamprad yang tercatat memiliki kekayaan USD23 miliar hanya memiliki mobil tua. Jika Anda berpikir Warren Buffet sangat hemat, Ingvar Kamprad jauh lebih hemat. Pendiri IKEA yang kekayaannya beda tipis dengan Ellison dan Batista bergaya hidup jauh beda. Dia hanya memiliki Volvo tua 240 GL. Sementara Alice Walton, generasi penerus Wal-Mart, AS, memiliki kekayaan USD20,6 miliar.
Ahli waris Wal-Mart ini memiliki hobi yang ekstrem. Dia senang menunggangi pikap besar. Saat ini dia memiliki Ford F-150 King Ranch tahun 2006. Sebelumnya dia terkenal dengan kemewahan melalui koleksinya Porsche. Dari Timur Tengah, ada Pangeran Alwalid bin Saud al-Talal yang memiliki kekayaan USD20 miliar. Dia memiliki tiga istana, kapal pesiar seharga USD500 juta, serta pesawat pribadi Boeing 747 dan Airbus A380. Di jalanan dia menjadi ”raja” dengan Rolls-Royce Phantom miliknya.
Minggu, 24 Oktober 2010 - 11:51 wib
Mobil Rolls-Royce (Foto: Daylife)
UANG boleh berlimpah, tapi gaya hidup tidak selalu mewah. Demikianlah sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa orang superkaya dunia. Warren Buffet misalnya, raja investasi asal Amerika Serikat (AS) ini justru hanya menggunakan Lincoln Town tahun 2001.
Mobil yang sangat sederhana untuk sekelas orang terkaya ketiga di dunia. Tidak berbeda dengan Ingvar Kamprad, pengusaha furnitur asal Swedia ini malah sering memilih menggunakan bus umum untuk mengontrol bisnisnya. Dia hanya memiliki mobil tua Volvo 240 GL. Namun tidak sedikit orang kaya-raya yang menikmati hidupnya dengan kemewahan, termasuk dalam urusan mobil. Dalam catatan MSN Autos (7/10/2010) dipaparkan tentang beberapa orang superkaya dan koleksi mobilnya.
Di antaranya adalah Warren Buffett. Raja investasi dari AS ini memiliki kekayaan USD49,9 miliar. Buffett merupakan orang terkaya ketiga di dunia, tapi untuk urusan gaya hidup dia sangat hemat. Buffet memiliki Lincoln Town Car tahun 2001. Bahkan, pada 2007 Buffet menjualnya melalui eBay sebesar USD73.200. Penjualan ini menguntungkan USD11.000 yang kemudian hasilnya disumbangkan untuk amal.
Kemudian Mukesh Ambani, seorang pengusaha petrokimia dan minyak India dengan kekayaan USD30,6 miliar. Orang terkaya India ini tidak asing dengan kemewahan. Rumahnya 27 lantai menjulang di jantung Kota Mumbai, India. Pemilik Reliance Group ini memiliki ruang parkir untuk 168 mobil. Ambani saat ini memiliki Mercedes Maybach 62 seharga Rp11 miliar. Dia juga memiliki Mercedes S Class dan Mercedes SL500.
Sementara Lawrence Ellison, pemilik Oracle, AS, yang tercatat memiliki kekayaan USD 29,8 miliar, memiliki mobil Bentley Continental Flying Spur tahun 2006. Sedan empat pintu ini bisa dipacu 320 km per jam, salah satu mobil tercepat dunia. Pendiri software Oracle, Larry Ellison, mungkin yang paling eksentrik dan boros. Ia memiliki pesawat tempur MiG bikinan Rusia dan perahu layar mewah. Pengusaha tambang dan minyak Brasil Eike Batista tercatat memiliki kekayaan USD29 miliar.
Sebagaimana Larry Ellison, baik dari segi kekayaan maupun gaya hidup, pengusaha minyak asal Brasil ini memiliki jet pribadi Legacy Embraer 600 seharga USD26 juta. Dia juga memiliki kapal pesiar mewah Pershing 115 seharga USD19 juta dan perahu balap USD1,7 juta. Adapun untuk mobil, dia memiliki Mercedes-Benz SLR McLaren seharga USD500.000 yang diparkir di ruang tamunya di Rio de Janeiro.
Sementara pengusaha furnitur IKEA, Swedia, Ingvar Kamprad yang tercatat memiliki kekayaan USD23 miliar hanya memiliki mobil tua. Jika Anda berpikir Warren Buffet sangat hemat, Ingvar Kamprad jauh lebih hemat. Pendiri IKEA yang kekayaannya beda tipis dengan Ellison dan Batista bergaya hidup jauh beda. Dia hanya memiliki Volvo tua 240 GL. Sementara Alice Walton, generasi penerus Wal-Mart, AS, memiliki kekayaan USD20,6 miliar.
Ahli waris Wal-Mart ini memiliki hobi yang ekstrem. Dia senang menunggangi pikap besar. Saat ini dia memiliki Ford F-150 King Ranch tahun 2006. Sebelumnya dia terkenal dengan kemewahan melalui koleksinya Porsche. Dari Timur Tengah, ada Pangeran Alwalid bin Saud al-Talal yang memiliki kekayaan USD20 miliar. Dia memiliki tiga istana, kapal pesiar seharga USD500 juta, serta pesawat pribadi Boeing 747 dan Airbus A380. Di jalanan dia menjadi ”raja” dengan Rolls-Royce Phantom miliknya.
CEO Sarjana Bukan Jaminan
SINDO
Senin, 27 Desember 2010 - 13:57 wib
TIDAK selamanya CEO yang menyandang gelar sarjana akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Hanya sedikit ditemukan bukti bahwa pendidikan CEO terkait dengan kinerja perusahaan.
Seorang CEO yang menyandang gelar sarjana dengan level pendidikan lebih tinggi, ternyata tidak menjamin akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan menjadi lebih baik. Sebuah penelitian mengungkapkan fakta, meski para CEO bergelar sarjana, tetapi kinerja mereka tidak lebih baik dibanding mereka yang tidak menyandang gelar sarjana, bahkan mereka yang putus sekolah sekalipun. Setidaknya, itulah hasil penelitian terbaru yang dilakukan Universitas New Hampshire, Amerika Serikat (AS). Pada hasil studi “CEO Education, CEO Turnover, and Firm Performance” yang dipublikasi September 2010 ini, terungkap fakta bahwa CEO yang memiliki gelar sarjana tidak selamanya berpengaruh pada kinerja perusahaan secara jangka panjang.
Fakta ini terungkap ketika kinerja perusahaan sedang menurun, seorang CEO––mereka yang lulusan perguruan tinggi prestisius sekalipun–– yang dituntut harus mampu memperbaiki kinerja perusahaan, ternyata tidak bisa melakukan yang lebih baik dibanding karyawan lain. “Temuan kami mengungkapkan bahwa jajaran direksi maupun para peneliti harus berhati-hati dalam menentukan kualifikasi yang berlebihan terkait pendidikan untuk menilai kemampuan mereka dalam memimpin perusahaan dan mengoptimalkan kinerja saham,” ujar Brian Bolton, pemimpin peneliti dan asisten profesor bidang keuangan pada Whittemore School of Business and Economics Universitas New Hampshire.
Analisis penelitian yang dilakukan didasarkan pada hubungan antara pendidikan CEO, pergantian CEO, dan kinerja perusahaan. Para peneliti menggunakan beberapa ukuran untuk menilai pendidikan CEO, diantaranya apakah sang CEO merupakan lulusan dari 20 perguruan tinggi (PT) ternama atau tidak? Apakah CEO memiliki gelar MBA, Hukum atau gelas master lain dari 20 perguruan tinggi ternama? Penelitian ini menganalisa data hampir 1.500 perusahaan pengalaman dan 2.600 kasus pergantian CEO dari tahun 1992 hingga 2007.
Dari penelitian ini memang ditemukan fakta bawa perusahaan yang merekrut seorang CEO dengan gelar MBA, dia mampu memperbaiki operasi kinerja perusahaan secara jangka pendek. Tetapi, para peneliti tidak menemukan korelasi sistematis yang signifikan antara level pendidikan para pemangku jabatan top manajemen dengan kinerja perusahaan jangka panjang. “Hasil penelitian kami menunjukkan, pendidikan CEO tidak banyak berperan dalam keputusan perusahaan untuk menggantikan kinerja CEO sebelumnya. CEO dengan kinerja kurang menggembirakan diganti bukan karena level pendidikan mereka,” tambahnya.
Ternyata, pendidikan CEO sangat berperan dalam proses pergantian CEO. Ada korelasi yang sangat signifikan antara pendidikan CEO baru yang terpilih dengan CEO lama yang digantikannya. Kenyataannya, pendidikan CEO tidak tampak sebagai representasi yang layak untuk mengukur kemampuan CEO. Dari hasil analisa data yang ada, tercatat 25 persem CEO memiliki pendidikan strata satu dari PT ternama di jajaran 20 teratas, sementara 85 persen lainnya merupakan alumni dari PT di luar negeri yang tidak masuk 20 jajaran teratas. Kemudian 15 persen diantaranya yang memiliki gelar MBA yang merupakan lulusan S1 dari 20 PT ternama. Dari para CEO yang memiliki gelas MBA, 63 persen diantaranya merupakan lulusan dari program MBA di 20 PT ternama.
Sekira 15 persen CEO yang menjadi sampel memiliki gelar S1 di bidang hukum, 44 persen diantaranya merupakan lulusan dari 20 PT ternama. Kurang dari 1 persen CEO yang memiliki dua gelar yakni MBA dan hukum. Sekira 14 persen CEO memiliki gelar master non MBA dan hukum. Dengan melihat karakteristik perusahaan dan CEO lintas sampel, hampir tidak ada perbedaan substansial. Rata-rata CEO berusia 56 tahun ke bawah bergelar MBA. Sementara CEO berusia di atas 56 tahun rata-rata bergelar master hukum. Masa kerja CEO yang bergelar MBA rata-rata 8,4 tahun. Sedangkan mereka yang bergelar master hukum rata-rata lebih lama. Nah, tingkat kinerja saham hampir serupa di seluruh sampel. Menurut Bolton, tidak satupun ukuran pendidikan CEO yang secara sistematis terkait dengan kinerja bagus perusahaan.
Justru hanya sedikit ditemukan bukti pendidikan CEO terkait dengan kinerja perusahaan. Sementara perusahaan mungkin akan menikmati perbaikan kinerja jangka pendek dengan merekrut CEO bergelar MBA, atau sebaliknya perusahaan mungkin akan mengalami penurunan jangka pendek setelah merekrut CEO dengan gelar master non MBA. Namun keterkaitan ini tidak bisa digeneralisasi kepada semua perusahaan atau kepada semua level pendidikan CEO. Bagaimanapun juga, jajaran komisaris perusahaan mencoba memberikan persyaratan tertentu bagi pendidikan CEO guna mendapatkan eksekutif potensial. Temuan studi ini mengungkapkan fakta, ketika pendidikan memainkan peranan penting dalam proses perekrutan CEO, hal itu tidak akan berdampak pada kinerja perusahaan secara jangka panjang.
“Pendidikan memang tidak banyak berpengaruh pada kinerja perusahaan. Lantas mengapa para komisaris perusahaan demikian mempertimbangkannya dalam proses evaluasi?” ujar Bolton. Menurut Bolton, mungkin hal itu disebabkan karena ketika merekrut CEO, perusahaan memiliki sedikit identifikasi dan kriteria ukuran yang digunakan. Tentu saja, karena ini terkait dengan siapa yang bakal menakhodai perusahaan. Karena itu proses perekrutan pun mempertimbangkan beragam syarat yang cukup ketat, terutama dalam hal kemampuan manajerial. Kemampuan interpersonal, kepemimpinan dan visi strategis adalah beberapa syarat mutlak yang harus dimiliki CEO. Tetapi, untuk yang satu ini cukup sulit untuk mendapatkan ukurannya. Jajaran komisaris perusahaan akhirnya melakukan penilaian pada pengalaman kerja, rekam jejak (track record), dan pendidikan seorang CEO.
Kendati begitu, Bolton memberikan catatan pada studi ini. Pertama, penelitian ini hanya mempertimbangkan pendidikan CEO. Tidak mempertimbangkan keseluruhan tim manajemen, termasuk manager dan jajaran direksi lain. Adalah sangat mungkin bahwa sebuah perusahaan dengan tim manajemen yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi akan mampu memiliki kinerja lebih baik dibanding yang tidak. Kedua, penelitian ini tidak membedakan antara jenis gelar sarjana baik untuk S1 atau S2.
Senin, 27 Desember 2010 - 13:57 wib
TIDAK selamanya CEO yang menyandang gelar sarjana akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Hanya sedikit ditemukan bukti bahwa pendidikan CEO terkait dengan kinerja perusahaan.
Seorang CEO yang menyandang gelar sarjana dengan level pendidikan lebih tinggi, ternyata tidak menjamin akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan menjadi lebih baik. Sebuah penelitian mengungkapkan fakta, meski para CEO bergelar sarjana, tetapi kinerja mereka tidak lebih baik dibanding mereka yang tidak menyandang gelar sarjana, bahkan mereka yang putus sekolah sekalipun. Setidaknya, itulah hasil penelitian terbaru yang dilakukan Universitas New Hampshire, Amerika Serikat (AS). Pada hasil studi “CEO Education, CEO Turnover, and Firm Performance” yang dipublikasi September 2010 ini, terungkap fakta bahwa CEO yang memiliki gelar sarjana tidak selamanya berpengaruh pada kinerja perusahaan secara jangka panjang.
Fakta ini terungkap ketika kinerja perusahaan sedang menurun, seorang CEO––mereka yang lulusan perguruan tinggi prestisius sekalipun–– yang dituntut harus mampu memperbaiki kinerja perusahaan, ternyata tidak bisa melakukan yang lebih baik dibanding karyawan lain. “Temuan kami mengungkapkan bahwa jajaran direksi maupun para peneliti harus berhati-hati dalam menentukan kualifikasi yang berlebihan terkait pendidikan untuk menilai kemampuan mereka dalam memimpin perusahaan dan mengoptimalkan kinerja saham,” ujar Brian Bolton, pemimpin peneliti dan asisten profesor bidang keuangan pada Whittemore School of Business and Economics Universitas New Hampshire.
Analisis penelitian yang dilakukan didasarkan pada hubungan antara pendidikan CEO, pergantian CEO, dan kinerja perusahaan. Para peneliti menggunakan beberapa ukuran untuk menilai pendidikan CEO, diantaranya apakah sang CEO merupakan lulusan dari 20 perguruan tinggi (PT) ternama atau tidak? Apakah CEO memiliki gelar MBA, Hukum atau gelas master lain dari 20 perguruan tinggi ternama? Penelitian ini menganalisa data hampir 1.500 perusahaan pengalaman dan 2.600 kasus pergantian CEO dari tahun 1992 hingga 2007.
Dari penelitian ini memang ditemukan fakta bawa perusahaan yang merekrut seorang CEO dengan gelar MBA, dia mampu memperbaiki operasi kinerja perusahaan secara jangka pendek. Tetapi, para peneliti tidak menemukan korelasi sistematis yang signifikan antara level pendidikan para pemangku jabatan top manajemen dengan kinerja perusahaan jangka panjang. “Hasil penelitian kami menunjukkan, pendidikan CEO tidak banyak berperan dalam keputusan perusahaan untuk menggantikan kinerja CEO sebelumnya. CEO dengan kinerja kurang menggembirakan diganti bukan karena level pendidikan mereka,” tambahnya.
Ternyata, pendidikan CEO sangat berperan dalam proses pergantian CEO. Ada korelasi yang sangat signifikan antara pendidikan CEO baru yang terpilih dengan CEO lama yang digantikannya. Kenyataannya, pendidikan CEO tidak tampak sebagai representasi yang layak untuk mengukur kemampuan CEO. Dari hasil analisa data yang ada, tercatat 25 persem CEO memiliki pendidikan strata satu dari PT ternama di jajaran 20 teratas, sementara 85 persen lainnya merupakan alumni dari PT di luar negeri yang tidak masuk 20 jajaran teratas. Kemudian 15 persen diantaranya yang memiliki gelar MBA yang merupakan lulusan S1 dari 20 PT ternama. Dari para CEO yang memiliki gelas MBA, 63 persen diantaranya merupakan lulusan dari program MBA di 20 PT ternama.
Sekira 15 persen CEO yang menjadi sampel memiliki gelar S1 di bidang hukum, 44 persen diantaranya merupakan lulusan dari 20 PT ternama. Kurang dari 1 persen CEO yang memiliki dua gelar yakni MBA dan hukum. Sekira 14 persen CEO memiliki gelar master non MBA dan hukum. Dengan melihat karakteristik perusahaan dan CEO lintas sampel, hampir tidak ada perbedaan substansial. Rata-rata CEO berusia 56 tahun ke bawah bergelar MBA. Sementara CEO berusia di atas 56 tahun rata-rata bergelar master hukum. Masa kerja CEO yang bergelar MBA rata-rata 8,4 tahun. Sedangkan mereka yang bergelar master hukum rata-rata lebih lama. Nah, tingkat kinerja saham hampir serupa di seluruh sampel. Menurut Bolton, tidak satupun ukuran pendidikan CEO yang secara sistematis terkait dengan kinerja bagus perusahaan.
Justru hanya sedikit ditemukan bukti pendidikan CEO terkait dengan kinerja perusahaan. Sementara perusahaan mungkin akan menikmati perbaikan kinerja jangka pendek dengan merekrut CEO bergelar MBA, atau sebaliknya perusahaan mungkin akan mengalami penurunan jangka pendek setelah merekrut CEO dengan gelar master non MBA. Namun keterkaitan ini tidak bisa digeneralisasi kepada semua perusahaan atau kepada semua level pendidikan CEO. Bagaimanapun juga, jajaran komisaris perusahaan mencoba memberikan persyaratan tertentu bagi pendidikan CEO guna mendapatkan eksekutif potensial. Temuan studi ini mengungkapkan fakta, ketika pendidikan memainkan peranan penting dalam proses perekrutan CEO, hal itu tidak akan berdampak pada kinerja perusahaan secara jangka panjang.
“Pendidikan memang tidak banyak berpengaruh pada kinerja perusahaan. Lantas mengapa para komisaris perusahaan demikian mempertimbangkannya dalam proses evaluasi?” ujar Bolton. Menurut Bolton, mungkin hal itu disebabkan karena ketika merekrut CEO, perusahaan memiliki sedikit identifikasi dan kriteria ukuran yang digunakan. Tentu saja, karena ini terkait dengan siapa yang bakal menakhodai perusahaan. Karena itu proses perekrutan pun mempertimbangkan beragam syarat yang cukup ketat, terutama dalam hal kemampuan manajerial. Kemampuan interpersonal, kepemimpinan dan visi strategis adalah beberapa syarat mutlak yang harus dimiliki CEO. Tetapi, untuk yang satu ini cukup sulit untuk mendapatkan ukurannya. Jajaran komisaris perusahaan akhirnya melakukan penilaian pada pengalaman kerja, rekam jejak (track record), dan pendidikan seorang CEO.
Kendati begitu, Bolton memberikan catatan pada studi ini. Pertama, penelitian ini hanya mempertimbangkan pendidikan CEO. Tidak mempertimbangkan keseluruhan tim manajemen, termasuk manager dan jajaran direksi lain. Adalah sangat mungkin bahwa sebuah perusahaan dengan tim manajemen yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi akan mampu memiliki kinerja lebih baik dibanding yang tidak. Kedua, penelitian ini tidak membedakan antara jenis gelar sarjana baik untuk S1 atau S2.
tugas etika baru
1. berikanlah contoh tindakan dari situasi konflik kepentingan anatara perusahaan dan karyawan minimal 4 dari 8 kategori situasi yang ada?
jawab :
a. Konflik vertikal yang terjadi antara tingkat hirarki,seperti antara manajemen puncak dan manajemen menengah, manajemen menengah dan penyelia, dan penyelia dan subordinasi. Bentuk konflik bisa berupa bagaimana mengalokasi sumberdaya secara optimum, mendeskripsikan tujuan, pencapaian kinerja organisasi, manajemen kompensasi dan karir.
b. Konflik Horisontal, yang terjadi di antara orang-orang yang bekerja pada tingkat hirarki yang sama di dalam perusahaan. Contoh bentuk konflik ini adalah tentang perumusan tujuan yang tidak cocok, tentang alokasi dan efisiensi penggunaan sumberdaya, dan pemasaran.
c. Konflik di antara staf lini, yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki tugas berbeda. Misalnya antara divisi pembelian bahan baku dan divisi keuangan. Divisi pembelian mengganggap akan efektif apabila bahan baku dibeli dalam jumlah besar dibanding sedikit-sedikit tetapi makan waktu berulang-ulang. Sementara divisi keuangan menghendaki jumlah yang lebih kecil karena terbatasnya anggaran. Misal lainnya antara divisi produksi dan divisi pemasaran. Divisi pemasaran membutuhkan produk yang beragam sesuai permintaan pasar. Sementara divisi produksi hanya mampu memproduksi jumlah produksi secara terbatas karena langkanya sumberdaya manusia yang akhli dan teknologi yang tepat.
d. Konflik peran berupa kesalahpahaman tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh seseorang. Konflik bisa terjadi antarkaryawan karena tidak lengkapnya uraian pekerjaan, pihak karyawan memiliki lebih dari seorang manajer, dan sistem koordinasi yang tidak jelas.
jawab :
a. Konflik vertikal yang terjadi antara tingkat hirarki,seperti antara manajemen puncak dan manajemen menengah, manajemen menengah dan penyelia, dan penyelia dan subordinasi. Bentuk konflik bisa berupa bagaimana mengalokasi sumberdaya secara optimum, mendeskripsikan tujuan, pencapaian kinerja organisasi, manajemen kompensasi dan karir.
b. Konflik Horisontal, yang terjadi di antara orang-orang yang bekerja pada tingkat hirarki yang sama di dalam perusahaan. Contoh bentuk konflik ini adalah tentang perumusan tujuan yang tidak cocok, tentang alokasi dan efisiensi penggunaan sumberdaya, dan pemasaran.
c. Konflik di antara staf lini, yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki tugas berbeda. Misalnya antara divisi pembelian bahan baku dan divisi keuangan. Divisi pembelian mengganggap akan efektif apabila bahan baku dibeli dalam jumlah besar dibanding sedikit-sedikit tetapi makan waktu berulang-ulang. Sementara divisi keuangan menghendaki jumlah yang lebih kecil karena terbatasnya anggaran. Misal lainnya antara divisi produksi dan divisi pemasaran. Divisi pemasaran membutuhkan produk yang beragam sesuai permintaan pasar. Sementara divisi produksi hanya mampu memproduksi jumlah produksi secara terbatas karena langkanya sumberdaya manusia yang akhli dan teknologi yang tepat.
d. Konflik peran berupa kesalahpahaman tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh seseorang. Konflik bisa terjadi antarkaryawan karena tidak lengkapnya uraian pekerjaan, pihak karyawan memiliki lebih dari seorang manajer, dan sistem koordinasi yang tidak jelas.
Langganan:
Postingan (Atom)